SATULIS.COM, Buton Tengah – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Buton Tengah Sulawesi Tenggara (Sultra) Melalui bendarharanya, Ili Husri S.Pd menyoroti kinerja dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DP3A) Buteng.
Sorotan tersebut terkait dengan meningkatnya tren kekerasan pada anak di negeri yang di kenal tag line humanis, harmonis, sejahtera dan agamis tersebut. Peningkatan mulai dari kekerasan fisik, psikis maupun seksual selama beberapa tahun belakangan.
Ili Husri menuturkan seiring dengan hal tersebut, peran yang dimainkan oleh DP3A nyaris tidak ada. Ia menyebutkan salah satu contoh kasus kekerasan seksual yang terjadi di kecamatan Mawasangka di tahun 2018-2019 lalu.
“Ada kasus di Watolo dulu, anak 9 tahun mengalami tindak kekerasan seksual, namun pihak DP3A Buteng seolah menutup mata,” ucap Ili Husri saat di temui di kediamannya, Minggu (07/06/2020) malam.
Menurutnya sebagai dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemberdayaan perempuan dan anak, mestinya membuat kebijakan teknis bagaimana menekan angka kekerasan seksual atau mungkin melakukan rehabilitasi psikis yang di alami korban.
“Kasus kekerasan seksual di Buteng hampir tiap tahun terjadi atau mungkin bahkan meningkat. kita tidak tahu semua itu apa saja yang di lakukan dinas selama ini. Atau jangan sampai hanya fokus di pekerjaan pemda seperti P2WKSS saja. Rehabilitasi psikis pun nyaris tidak pernah terdengar, bagaimana seperti itu?,” sentilnya.
Apalagi kata pria yang akrab di sapa Bob ini, pemda Buteng melalui DP3A telah di fasilitasi mobil perlindungan (Molin) yang di harapkan bisa atau meningkatkan efektifitas, penjangkauan, pencegahan dan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan.
“Saya kira pusat atau Kementerian kasih bantuan Molin untuk memperkuat unit pelayanan terpadu perlindungan anak dan perempuan mengingat wilayah Buteng yang luas melalui kendaraan operasional untuk bisa menjangkau daerah terjauh,” bebernya.
Tak sampai disitu, Ia pun menyinggung kejadian yang cukup mengiris hati beberapa waktu lalu dimana seorang anak perempuan di desa Matawine kecamatan Lakudo mengalami kekersan psikis, fisik dan seksual sekaligus.
“Kejadian di Matawine ini mungkin kesekian kalinya di Buteng. Saya tanya dimana DP3A hadir untuk memberikan rasa aman kepada anak anak. Minimal memberikan pengobatan sampai pemulihan, pemberian bantuan sosial pada keluarga yang tidak mampu atau pendampingan setiap proses peradilan yang di hadapi,” katanya.
Melalui kesempatan itu, Bob, Pria yang dikenal dekat dengan bunga (pengusaha bunga hias) meminta kepada bupati Buteng, H Samahuddin untuk segera mengevaluasi kinerja kepala dinas DP3A yang dianggap tidak mampu melaksanakan tugas.
“Saya kira kalau ada Kadis yang jarang melaksanakan monitoring, evaluasi dan menyusun program teknis mesti di evaluasi. Saya harap kedepan lembaga yang menangani perlindungan anak ini lebih tanggap lagi terkait tindak kekerasan yang ada di daerah, khususnya Buteng,” tutupnya (Adm).
Peliput : Arwin
