SATULIS.COM, Buton Utara – Pemerintah Daerah (Pemda) Buton Utara (Butur) melalui Dinas Pertanian melakukan panen raya padi organik bertempat di Desa Waculaee Kecamatan Kulisusu, Sabtu (8/8/2020).
Pada kesempatan hari ini Bupati Buton Utara dalam sambutannya mengupkapkan Butur adalah salah satu daerah di Sultra yang mempunyai program unggulan. Baik sektor pertanian terintegrasi dengan sektor perkebunan, perikanan dan kelautan.
“Apa yang kita saksikan hari ini, inilah kerja-kerja petani kita, saya harap para petani terus bekerja, pemerintah harus memberikan subsidi bagi para petani,” tuturnya.
Kata Abu Hasan regenerasi para petani sangat lambat di bandingkan dengan bidang-bidang yang lain seperti birokrasi padahal lahan pertanian kita sangat luas.
“Kalau tidak ada petani yang bekerja, kita mau makan apa. Petani kita hari ini rata-rata berumur 50 tahun keatas. Regenerasi petani dan nelayana kita sangat lambat di bandingkan dengan regenerasi birokrasi dan regenerasi politisi,” tegasnya.
Sambungnya, Pihaknya berharap untuk terus bekerja sebagai petani, usaha-usaha yang berkaitan dengan kegiatan bersentuhan dengan perekonomian. kata dia, pemerintah akan selalu memberikan perhatian lebih, memang ini sangat lambat kita lakukan, karena pertanian membutunkan waktu sekitar 5 – 6 bulan untuk menghasilkan sesuatu.
Sedangkan Kepala Dinas Pertanian Sahrul Akri, mengukapkan panen raya Ini setiap tahun direncanakan selama Bupati Butur menjabat ini program pengembangan padi organik tetap artinya beliau berkomitmen mengembangkan padi organik malah tadi untuk kedepan akan dinaikan mudah mudahan kalau ada anggaran.
“Sedangkan lahan yang di panen Ini hampir dua hektar ini janis padi tetap jenis padi organik lokal kita yaitu padi wangkariri, wangkawondu, wangkaluku, warumbia, wataanta, waapolo, wabula. Untuk padi yang di panen ini jenis padi wangkariri,” ujarnya.
Kata dia, bantuan untuk petani yang kemarin lima ratus hektar tahun 2020 dan tersebar di enam kecamatan seperti saya katakan produksinya sangat rendah tapi ini merupakan tantangan kita di Dinas Pertanian untuk kedepan kita harus mengembangkan padi organik dengan meninggalkan produktifitas. Kita targerkan sampai dua tahun perhekter untuk produktifitas dari 1,5 jadi 2 Ton.
“Ini bibit bantuan dari pemda ada juga swadaya masyarakat. Target kita sebenarnya setiap tahun lima ratus dan tahun ini kita capai lima ratus hektar hanya tahun kemarin kita tidak capai itu hanya dua ratus tujuh puluh hektar kendalanya terlambat dilakukan cpcl sehingga petani sudah ada yang panen baru mereka cpcl,” tuturnya
Kendati demikian, Kata Sahrul Akri ada juga beberapa Desa yang masuk diskawasan seperti Desa torombia dan Desa lamoahi itu masuk diskawasan hutang lidung sehingga kita tidak berani memberikan bantuan.
Lebih lanjut, sawah berbeda dengan ladang kalau ladang sifatnya Berpindah pindah jadinya dua kali kita tanam tahun ketiga tidak lagi jadi harus pindak lagi ke tempat lain dan setiap tahun dilakukan sertifikasi baik petaninya maupun lahannya.
“Tetapi kalau lahan sawah satu kali sertifikasi selamanya petani sudah sertifikasi lahan sertifikasi dan dia tidak pindah pindah lagi itu kelebihannya kalau dilahan sawah dan kita lebih gampang melakukan pembeniaan,” bebernya. (Adm)
peliput : Haslin
