SATULIS.COM, Buton Tengah – Pengerjaan proyek pembangunan kolam renang di desa Madongka, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara (Sultra) yang peletakan batu pertamanya di lakukan oleh Bupati Samahuddin menuai kritikan.
Hal itu datang dari ketua The La Malonda Institute, Irianto Ibrahim yang diunggah melalui postingan Facebooknya.
Dalam unggahan tersebut Ia menuliskan keresahan hati terkait rusaknya ekosistem yang menanti disana atau bahkan terkesan pemborosan anggaran karena membangun kolam di kolam alam.
Walau tanpa kolam renangpun, dalam tulisan itu mengatakan pantai Katembe merupakan anugrah Tuhan yang tidak bisa dijiplak oleh karena pesona yang dimilikinya.
Diujung tulisannya Ia kembali mengingatkan pemerintah desa agar tidak terburu buru dalam membangun pariwisata desa, sebab masih banyak masyarakat yang belum tersentuh dengan program kesejahteraan.
Berikut kutipan unggahan akun Facebook Irianto Ibrahim
UNTUK TUAN KADES MADONGKA
Jika ada waktu, ingin sekali rasanya saya berkunjung ke desa Madongka. Bertemu tuan kepala desa, dan bicara dari hati ke hati. Saya penasaran pada program membangun kolam renang di pantai katembe. Tidak. Tidak ada niat dalam hati dan pikiran saya untuk mendebat. Tak ada niat pula untuk melarang. Tuan kepala desa barangkali sudah menimbang ulang dan memikirkan matang-matang program itu. Barangkali juga sudah diasistensi pihak dinas pemdes, atau sudah ada persetujuan dari pihak pariwisata, atau siapapun yang terkait dengan itu. Tujuan saya sederhana saja: Ingin mendengar langsung dari tuan kepala desa apa yang ada di dalam pikirannya.
Atau begini. Tahukah tuan kades apa yang membuat katembe demikian memesona? Bukan hanya garis pantainya yang membentang sepanjang 1,5 km itu. Bukan pula karena pasir putihnya yang halus dan menampakkan gradasi warna perak ketika ditimpa bias senja. Bukan karena jernih lautnya yang membuat mata terbelalak meyaksikan ikan-ikan bermain di antara karang. Bukan juga karena deretan pohon kelapa yang melambai-lambai seperti pada lagu-lagu. Bukan itu saja. Katembe adalah keseluruhan. Katembe adalah satu kesatuan. Katembe tidak bisa difotocopy.
Jadi aneh bagi saya tiba-tiba muncul satu gambar pada satu grup whatsapp, galian pasir, tumpukan batu, dan sebuah ekskavator di antara deretan pohon kelapa di pantai katembe. Uang Rp. 647.476.000, dari dana desa itu, terlalu besar untuk menghancurkan katembe sebagai satu kesatuan. Sebagai satu ekosistem.
Atau barangkali tuan kades pernah berkunjung di suatu tempat wisata, di Bali atau di manapun itu. Melihat keindahan kolam renang sebuah hotel yang dibangun persis berhadapan dengan pantai. Lalu muncul ide untuk membangun hal yang sama di desa tempat tuan berada. Anda pasti lupa satu hal, katembe bagi orang madongka bukanlah tempat wisata. Katembe adalah bagian dari denyut hidup masyarakat di situ.
Atau baiklah. Saya akan coba menyesuaikan. Barangkali gagasan tuan kades ingin menjadikan katembe sebagai destinasi wisata yang dikelola oleh desa. Bila boleh saya bertanya, apakah persoalan para tokoh desa sudah selesai? Ini perlu saya pertanyakan mengingat alasan pihak pemda belum menyentuh katembe karena masih adanya sengketa tanah yang –katanya- belum ada kata sepakat?
Jadi begini tuan kades. Saran saya, bikinlah rapat kecil dulu di desa. Lihat dulu kebutuhan masyarakat yang prioritas untuk membangun kesejahteraan desa. Pariwisata memang salah satunya. Tapi tidak harus membangun kolam di kolam alam yang sudah luar biasa indahnya itu. Mungkin para nelayan masih ada yang butuh jaring, atau perahu katinting, atau apalah yang menyentuh langsung kehidupan dan keseharian masyarakat. Percayalah tuan kades, itu lebih baik bagi Anda.
Sudah. Itu saja.
Irianto Ibrahim
The La Malonda Institute
Peliput : Arwin
