Lawan Stunting, Pemkab Busel Ajak Masyarakat Ubah Pola Asuh

6

SATULIS.COM, BUTON SELATAN – Kasus Stunting (kekerdilan) di Kabupaten Buton Selatan (Busel) cukup menghawatirkan. Data Per April 2022, jumlah kasus stunting mencapai 783 kasus.

Namun demikian, hal itu justru berbanding terbalik dari 2 tahun silam yakni 2019, dimana angka Stunting pada generasi penerus Busel menyentuh angka 40 persen lebih. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang cukup menyita dan menguras energi Pemkab Beradat itu yang menargetkan angka Stunting turun hingga 15 persen di tahun 2024 mendatang.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Busel, La Asari menuturkan, saat ini pihaknya tengah gencar meramu sebuah strategi guna menurunkan jumlah anak balita yang mengalami masalah kekerdilan. Apalagi kondisi tersebut disadari karena masalah kekurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama.

- Advertisement -

“Ada 3 penyebab terjadinya Stunting di Buton Selatan ini. Baik itu persoalan asupan gizi sejak dalam kandungan, masalah genetik bahkan yang paling mendasar adalah pola asuh yang terbilang keliru dan menjadi sebuah kebiasaan,” tuturnya.

Kata dia, untuk menekan angka Stunting yang masih tergolong tinggi hingga mencapai 30 persen ditahun 2022 sesuai data aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), pihaknya kemudian melakukan orientasi guna melahirkan kaderisasi hingga ditingkat desa. Dimana kaderisasi tersebut akan bertugas memberikan pemantauan dan edukasi kepada para calon pasangan yang hendak membina rumah tangga.

“Kader kami memang sudah ada di desa tapi itu sebagai penyuluh KB. Sekarang tidak hanya penyuluh KB yang kami siapkan untuk mengawal ini melainkan kami juga melibatkan bidan desa dan PKK untuk tergabung dalam tim pendamping keluarga di desa se-Kabupaten Busel,” katanya.

Baca Juga :  Buton Selatan Raihan Predikat Kabupaten Paling Inovatif Tangani Stunting

Dia menambahkan, dalam kasus Stunting tersebut ditandai dengan pertumbuhan anak yang lambat yang menyebabkan anak tersebut tumbuh pendek (kerdil,red). Dimana akan beresiko dengan kesulitan belajar, kemampuan kognitifnya lemah, mudah lelah, dan tidak lincah dibandingkan anak-anak lain seusianya.

“Persoalan Stunting adalah persoalan kita bersama. Jadi mari kita bersama bergandengan tangan, membulatkan tekat agar Kabupaten Buton Selatan dapat mengatasi persoalan Stunting ini demi generasi Buton Selatan yang berdaya saing,” tutupnya. (adm)

Komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry